Penguatan Pelayanan Primer Melalui Sistem Insentif Berbasis Kinerja

Jakarta 20 Desember 2017- IR, Di Sesi II, dipaparkan lebih lanjut hasil penelitian tentang penerapan sistem insentif untuk program prioritas kesehatan yaitu program tuberkolisis (TB), kesehatan ibu dan anak serta program HIV AIDS. Christa Dewi menyampaikan bahwa terdapat variasi pandangan terhadap sistem pemberian insentif yang diterima oleh pemegang program TB di puskesmas di 5 kabupaten/kota. Contohnya pemegang program TB di Jakarta timur merasa bahwa tidak adanya penghargaan tambahan sebagai pemegang TB sehingga menimbulkan pemikiran tentang insentif yang tidak berhubungan dengan beban kerja.

Pemegang Program TB Puskesmas di Jembertidak mendapatkan tambahan penghasilan apabila pemegang program TB merupakan dokter, dan perawat, sedangkan apabila pemegang program merupakan dokter gigi, dan Analis Kesehatan yang dinilai tidak berhubungan dengan TB mendapatkan tambahan penghasilan. Untuk Kota Jayapura sendiri, setiap pemegang program diberikan ekstra poin 10 untuk setiap program. Pada penelitian tentang program TB, Hasil menunjukan bahwa isu yang berhubungan insentif dan kinerja adalah isu ketidak adilan dan pekerjaan ganda.

Aulia Novelira melanjutkan presentasi tentang program HIV/AIDS di 5 kabupaten kota tersebut. Pelaksanaan program HIV/AIDS di Puskesmas telah menjadi bukti upaya perluasan penjangkauan layanan konseling dan tes HIV di tingkat FKTP. Pada wilayah Kabupaten Jember, Kota Jakarta Timur, Kota Jayapura, dan Kabupaten Jayawijaya pelayanan konseling dan tes HIV telah lebih mandiri dan memiliki beberapa LSM-HIV yang dapat bekerjasama dalam penjangkauan kelompok resiko. Namun, untuk Kabupaten Tapanuli Selatan, pelayanan konseling dan tes HIV masih dalam proses inisiasi dan masih diutamakan pada kelompok ibu hamil serta pasien TB. Di setiap wilayah studi diketahui bahwa penanggung jawab program HIV merupakan sebuah bentuk kepercayaan dan tanggungjawab tambahan bagi petugas (baik tenaga medis ataupun non medis). Dalam mendukung setiap kinerja penanggung jawab program HIV (beserta tiim HIV lainnya), terdapat dua jenis insentif yang diterima petugas yaitu insentif yang secara reguler diterima namun tidak berkaitan dengan kinerja, seperti insentif daerah (TPB di Kabupaten Jayawijaya dan Kota Jayapura, TPP di Kabupaten Tapanuli Selatan; Jasa Pelayanan Kapitasi BPJS Kesehatan di semua wilayah studi kecuali Kota Jakarta Timur) dan insentif yang diterima baik secara reguler ataupun berdasarkan kegiatan (dana BOK, dukungan dana dari Global Fund atau LSM-HIV, dan TKD di Kota Jakarta Timur). Saat program HIV mendapat dukungan dana, secara otomatis akan memudahkan PJ Program HIV dan tim kerja dalam mencapai target program. Setidaknya dalam menjalankan kewajibannya, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya pribadi. Di sisi lain, diketahui bahwa insentif (baik dalam bentuk finansial maupun non finansial) merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi petugas dalam bekerja.

Pemaparan program prioritas yang terakhir adalah program kesehatan ibu dan anak yang dipaparkan oleh Sri Umasugi. Dalam skema program KIA, terdapat sumber dana yang terkait dengan kapitasi, non kapitasi dan bantuan operasional khusus. Dana kapitasi di Kota Jayapura dan Jayawijaya mempengaruhi kehadiran karena pembagian dana kapitasi setelah mengalami perhitungan dan pembagian jumlah yang akan diterima, akan diberikan pengurangan sebesar Rp 50.000, untuk setiap ketidak hadiran. Dana non kapitasi oleh BPJS bermanfaat untuk melaksanakan pelayanan ibu ebhamil (persalinan normal, ANC, tindakan pra-rujuk pada komplikasi, persalinan dengan tindakan emergensi dasar pada puskesmas PONED) dan pelayanan keluarga berencana (Pemasangan/cabut IUD/Implant, KB Suntik, Komplikasi KB, Vasektomi). Dana bantuan operasional kesehatan lebih dikhususkan kepada operasional kegiatan pelayanan seperti pertolongan persalinan, perawatan bayi baru lahir, pelayanan KB setelah persalinan, dan rujukan ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten. Selanjutnya rekomendasi yang dapat diberikan untuk program KIA yaitu, perhitungan dan pembagian insentif terhadap program harus sesuai dengan beban kerja dan kinerja, dan peningkatan fungsi kontrol, sehingga keterlambatan dan kebingungan dapat ditangani.

Selanjutnya, pembahasan hasil penelitian ini dilakukan pada kelompok. Kelompok pertama membahas mengenai indikator kinerja puskesmas yaitu kapitasi berbasis kinerja harus menyesuaikan dengan kondisi geografis, demografi dan meninjau kembali indikator latar belakang pendidikan. Daerah yang berkinerja kurang karena kondisi yang kurang menguntungkan dapat termotivasi untuk berkinerja lebih baik, bukan malah mendapatkan hukuman. Kelompok kedua membahas mengenai tata kelola. Fokus utama dalam diskusi ini menjabarkan tentang persyaratan administrasi, kendala dan solusi yang diberikan terhadap setiap sumber pendapatan keuangan puskesmas. Kelompok ketiga membahas mengenai dukungan/koordinasi dengan masyarakat dan lintas sektor. Puskesmas memiliki tanggung jawab kewilayahan sehingga kolaborasi dengan klinik swasta dan lembaga swadaya masyarakat terkait. Kelompok keempat membahas tentang standarisasi pendapatan tenaga kesehatan. Komponen pendapatan yang harus dilihat untuk sistem insentif adalah beban kerja dan kerja diluar jam kerja (lembur).[M- bush]


Galeri Foto >>


KEMITRAAN


USAID           pkmk eng  

Program ini merupakan upaya kolaboratif antara berbagai ahli dan pemegang kebijakan dalam pengembangan sistem kesehatan yang terdiri atas USAID, Health Finance & Governance Project, Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM, dan berbagai insititusi lainnya.

Visitor Counter

Today 33

Yesterday 120

Week 288

Month 4516

All 31817

Currently are 7 guests and no members online

About Website

This website is made possible by the support of the American people through the United States Agency for International Development (USAID). The contents are the sole responsibility of Indonesian Implementation Research for UHC Program and do not reflect the views of USAID or the United States Government.

Copyright © 2018 Indonesia-Implementationresearch-uhc

Search